Kapan Sebaiknya Rukiah Dilakukan, Apa Saat Sakit atau Sehat?
Sebagian orang baru mengingat rukiah ketika jatuh sakit. Ada juga yang mencari rukiah (ruqyah) saat mengalami keluhan nonmedis, rasa takut tanpa sebab, atau dugaan gangguan gaib.
Padahal, rukiah dalam Islam tidak hanya dilakukan ketika seseorang sakit. Seorang Muslim juga dapat membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berzikir saat sehat sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan Allah.
Lantas, kapan sebaiknya rukiah dilakukan? Apakah saat sakit atau justru ketika sehat?
Rukiah merupakan salah satu bentuk ikhtiar seorang muslim untuk memohon perlindungan dan kesembuhan dari Allah melalui bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, doa, dan zikir.
Pelaksanaannya tidak menggunakan mantra yang mengandung kesyirikan, pemanggilan makhluk gaib atau permohonan pertolongan kepada selain Allah.
Dalam Al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa kitab suci tersebut mengandung petunjuk, pelajaran, dan kesembuhan bagi orang-orang beriman. Allah berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’ 82).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai petunjuk sekaligus rahmat dan penawar bagi orang-orang beriman.
Karena itu, membaca Al-Qur’an tidak seharusnya hanya dilakukan ketika seseorang sedang menghadapi kesulitan semata.
Membacanya perlu menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, baik ketika sehat maupun ketika sakit.
Ketika seseorang mengalami sakit atau gangguan yang membuat dirinya tidak nyaman, rukiah dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk memohon kesembuhan.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah melakukan rukiah terhadap dirinya. Ini terdapat dalam riwayat Aisyah RA yang tercantum dalam Bukhari dan Muslim.
Disebutkan bahwa ketika Rasulullah mengalami sakit, beliau membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas.
Beliau kemudian meniupkan bacaan tersebut ke kedua telapak tangannya dan mengusapkannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkau.
Ketika sakit beliau semakin berat, Aisyah RA membacakan surah-surah tersebut untuk Rasulullah. Kemudian mengusapkan tangan beliau ke tubuhnya dengan mengharapkan keberkahan.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa rukiah merupakan salah satu ikhtiar yang dicontohkan Rasulullah.
Dengan demikian, seseorang tidak perlu menunggu kondisinya semakin parah untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan berdoa memohon kesembuhan.
Namun, perlu dipahami bahwa rukiah bukan pengganti pengobatan medis.
Jika seseorang mengalami keluhan kesehatan, pemeriksaan dan pengobatan tenaga medis tetap perlu dilakukan sesuai kebutuhannya.
Rukiah dan pengobatan medis dapat berjalan berdampingan sebagai bentuk ikhtiar.
Pertanyaan berikutnya, apakah orang yang tidak sedang sakit juga boleh melakukan rukiah? Jawabannya, boleh.
Seorang muslim dapat membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan doa perlindungan untuk menjaga dirinya, keluarganya, dan memohon keselamatan kepada Allah.
Bahkan Rasulullah mengajarkan berbagai doa dan zikir yang dibaca secara rutin pada pagi dan petang.
Salah satu contohnya adalah membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas masing-masing tiga kali pada pagi dan petang.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah mengajarkan bacaan tersebut sebagai bentuk perlindungan dengan seizin Allah.
Selain itu, Rasulullah juga mengajarkan membaca ayat Kursi (QS. Al Baqarah: 255) sebelum tidur.
Dalam hadis riwayat Bukhari, disebutkan bahwa orang yang membacanya sebelum tidur akan mendapatkan penjagaan dari Allah dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi.
Amalan-amalan tersebut menunjukkan bahwa menjaga diri melalui bacaan Al-Qur’an dan doa tidak harus menunggu seseorang mengalami gangguan atau sakit.
Meski demikian, perlu dibedakan antara rukiah sebagai praktik pengobatan dan doa serta zikir perlindungan sehari-hari.
Keduanya memiliki tujuan yang berkaitan, tetapi tidak selalu harus disebut sebagai satu bentuk praktik yang sama.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang terkadang terlalu fokus menjaga kesehatan fisiknya namun melupakan pentingnya menjaga kedekatan spiritual dengan Allah.
Padahal, kesehatan dan keselamatan merupakan nikmat yang patut disyukuri. Ketika tubuh sehat, seseorang dapat memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, menjaga salat, dan membiasakan zikir pagi petang.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan hati berkaitan erat dengan mengingat Allah.
Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu mengalami ketakutan, kegelisahan, atau sakit untuk mulai memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an.
Justru ketika sehat dan memiliki waktu luang, kesempatan tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat ibadah.
Hal penting lainnya adalah memastikan bahwa rukiah dilakukan dengan cara yang benar. Rasulullah bersabda:
“Tidak mengapa melakukan rukiah selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menjadi salah satu dasar bahwa rukiah diperbolehkan dalam Islam selama bacaan dan praktiknya tidak bertentangan dengan akidah.
Oleh sebab itu, masyarakat perlu berhati-hati ketika memilih orang yang menawarkan jasa rukiah.
Hindari praktik yang menggunakan jimat, sesajen, mantra-mantra tidak jelas, pemanggilan roh-roh atau meminta bantuan kepada makhluk gaib.
Rukiah juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menuduh seseorang terkena sihir, gangguan jin, atau penyakit tertentu tanpa dasar yang jelas.
Maksudnya jangan mudah menyimpulkan seseorang terkena sihir atau gangguan jin tanpa bukti yang jelas. Keluhan kesehatan juga perlu diperiksa secara medis.
Seseorang yang melakukan rukiah harus tetap menjaga keyakinan bahwa kesembuhan dan perlindungan hanya datang dari Allah saja.
Bacaan Al-Qur’an dan doa merupakan bagian dari ikhtiar bukan kekuatan yang berdiri sendiri.
Sesuai tuntunan Al-Qur’an dan hadis, rukiah dapat dilakukan ketika seseorang membutuhkan pertolongan, perlindungan, maupun kesembuhan dari Allah.
Ketika sakit, seseorang dapat melakukan rukiah sebagai salah satu ikhtiar untuk memohon kesembuhan.
Ketika sehat, seorang muslim tetap dianjurkan menjaga diri dengan membaca Al-Qur’an, membiasakan doa, dan mengamalkan zikir pagi petang.
Tidak ada ketentuan bahwa seseorang harus menunggu sakit terlebih dahulu untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui bacaan Al-Qur’an.
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa sering seseorang melakukan rukiah, melainkan bagaimana ia menjaga hubungan dengan Allah dalam keadaan apa pun.
Jangan hanya mengingat Allah ketika sedang menghadapi kesulitan. Dan pada ketika sehat, lapang dan bahagia lupa sama Allah.
Seorang muslim wajib mengingat-Nya dalam setiap kondisi. Sebab, kesehatan adalah nikmat doa adalah ikhtiar.
Harus diyakini bahwa segala bentuk kesembuhan maupun perlindungan tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Related Articles
Pernahkah kita merasa lelah karena sudah berobat ke mana-mana, tetapi penyakit belum juga sembuh?
Membakar dupa, buhur, kemenyan atau kayu wewangin saat berdoa atau saat bermunajat memohon hujan dipindahkan (diturunkan) atau ibadah selainnya diperbolehkan dalam syariat Islam.
Masalah kesehatan lahir maupun batin hampir tidak pernah bisa dikatakan benar-benar sederhana.